Sekali Itu Berarti, Sudah Itu…
Sore itu nampak seorang gadis mengetuk pintu dengan senyum ceria di wajahnya.
Hana : “Selamat sore… apakah benar, ini kediaman Ibu Ratih?”
Ibu Ratih : “Iya, benar, saya Ibu Ratih. Adik siapa, ya?”
Hana : “Saya tidak tahu harus cerita bagaimana, tapi Ayah menitipkan ini untuk Anda.” (menyerahkan surat).
Ibu Ratih : (membuka surat). “Astaga… jadi, kamu… anakku? Hana anakku? Kamu sudah sebesar ini, Nak? Ibu kangen sekali sama kamu! Lalu bagaimana keadaan Ayahmu sekarang? Mengapa dia menyuruhmu tinggal di sini?”
Hana : “Ayah sudah tidak ada, Bu. Tadi pagi upacara pemakamannya dilaksanakan. Tapi, kemarin sore beliau masih sempat menulis surat ini.”
Ibu Ratih : “Innalillahi wa inna illaihi roji’un… Ya sudah, ayo masuk!”
Malam harinya terlihat seorang gadis sedang sibuk mengamati isi ruangan yang baru saja ia masuki. Matanya tertuju pada sebuah foto yang terpampang di meja.
Hana : “Hmm… kamu kah kakak kandungku yang ibu ceritakan padaku tadi? Aku bahkan tidak ingat sama sekali kalau aku punya saudara. Kata Ayah, Ayah dan Ibu bercerai saat aku masih berumur satu tahun. Mungkin itu sebabnya aku tidak ingat. Mungkin kamu juga tidak ingat sama aku. Karena selisih umur kita juga cuma satu tahun.”
Hilga : “Hei, siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di kamarku?”
Hana : “Eh…maaf! Kamu Kak Hilga, kan? Aku Hana, adik kandung kamu.”
Hilga : “Adik kandung?”
Ibu Ratih: “Hilga, iya benar…dia adik kandung kamu yang selama ini tinggal bersama Ayah.”
Hilga : (mengernyitkan dahi sambil menatap Hana). “Hh… aku mau tidur.”
Hari berikutnya…
Seorang teman Hilga datang ke kediaman Ibu Ratih dan mengobrol bersama Hana dan Hilga.
Fany : “Jadi, kalian beneran saudara kandung? Sangat tidak terlihat seperti saudara.”
Hana : “Kakak, ini minumnya!”
Fany : “Wah, makasih! Kalian benar-benar beda, ya!”
Hilga : “Aku juga tidak sudi mirip dengannya!”
(Hana menunduk).
Fany : “Eh…kamu jangan gitu!”
Hilga : “Hh…biarin!”
Fany : (meminum minuman yang disuguhkan Hana).
“Ya sudah, Ga! Aku pulang dulu, ya!”
Hana : “Kakak, mari aku antar!”
Fany : “Eh? Oke… ! bye, Hilga!”
Beberapa hari kemudian…
Hana dan Hilga pergi bersama ke sekolah. Karena Hana merupakan murid baru di sekolah itu, maka ibunya menyuruh Hilga untuk selalu bersama Hana.
Hana : “Kakak, mengapa dari tadi hanya diam saja? Sepertinya Kakak benci sekali denganku..”
Hilga : “Menurutmu?”
Hana : “Kita tidak bisa berteman, ya?”
(Hilga mencibir)
“Kakak, boleh aku minta satu permintaan?”
Hilga : “Apa hakmu meminta sesuatu?”
Hana : “Sekali saja, Kak… setelah itu aku akan pergi.”
Hilga : “Baguslah kalau kamu sadar dan mau pergi…kamu mau minta apa?”
Hana : “Menjadi saudaramu… sebentar saja.”
(Hilga terkejut).
“Tidak bisa, ya? Aku ke kelas duluan, Kak.”
Malam harinya, di rumah Fany.
Hilga : “Ada-ada saja anak itu! Memintaku menjadi saudaranya! Mimpi kali ya!”
(meneguk bir).
Fany : “Eh, kamu jangan gitu! Bagaimanapun juga dia saudara kandungmu!”
Hilga : “Saudara kandung? Tidak! Kamu tidak tahu kan, Ibu berubah semenjak ada dia! Ibu menjadi sering di rumah, perhatian, tidak pernah membentakku lagi. Huh, benar-benar bukan seperti Ibuku yang dulu.”
Fany : “Lho, bukannya malah bagus ya? Harusnya kamu senang dong!”
Hilga : “Senang? Ibu begitu karena dia! Semua yang Ibu lakukan karena dia, bukan karena aku. Hh…memuakkan!”
(meneguk bir).
Beberapa hari kemudian…
Ibu Ratih : “Hilga… hari ini mumpung libur, kamu ajak Hana ke Dufan, katanya hari ini kamu mau ke Dufan sama Fany, kan?”
Hilga : “Apa?!”
Hana : “Pagi semua…”
Ibu Ratih : “Hana, hari ini ikutlah Hilga ke Dufan, dan bersenang-senanglah.”
Hana : “Tapi, Ibu…aku mau kembali ke rumah Ayah di Surabaya.”
Ibu Ratih : “Hana, kenapa kamu ingin kembali ke sana? Keluargamu sekarang ada di sini, Nak… Ibu mohon jangan pergi…”
Hana : “Ibu…maaf…”
(Hilga pergi beberapa langkah).
Ibu Ratih : “HANA?!!”
(Hilga berbalik arah dan menolong Hana yang jatuh pingsan).
Di Rumah Sakit…
Hilga : “Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongnya. Aku benar-benar kakak yang payah…”
Fany : “Tenang, kamu masih bisa menjadi kakak yang baik untuknya. Semua belum terlambat, Hilga…”
Hilga : “Tapi, aku tidak yakin Hana mau memaafkanku.”
Fany : “Aku rasa dia akan memaafkanmu..sepertinya Hana itu tipe pemaaf..berbeda denganmu yang..”
Hilga : “Ya?!!”
Fany : “Haha. Becanda.”
Ibu Ratih : “Hilga!!”
Hilga : “Eh, Ibu?!”
Ibu Ratih : “Cepat ke sini, Nak! Adikmu, Hana… dia koma!”
Hilga : “Apa?!!”
(Hilga masuk ke dalam ruang rawat inap Hana).
“Ibu, Hana…”
Ibu Ratih : “Tranfusi darahnya sudah tidak berfungsi lagi.”
Hilga : “Lalu?!”
Ibu Ratih : “Ibu mau ke ruang dokter dulu.”
(Ibu Ratih pergi meninggalkan ruangan, lalu Fany masuk mendekati Hilga).
Hilga : “Fan, aku takut… Sekarang aku tau maksud dari permintaannya dulu..aku jahat Fan.. karena tak pernah menerimanya.. kami bersaudara tapi aku terus saja menyakitinya..”
Fany : “Tenanglah..pasti ada jalan…transplantasi ginjal mungkin bisa membantu.. Aku pernah dengar tentang itu..”
Hilga : “Kamu benar! Tunggu sebentar, aku akan ke ruang Dokter!”
(Hilga kembali lagi setelah berjam-jam pergi).
Di ruangan Hana…
Hilga : “Maaf…Hana, aku tidak bisa mendonorkan ginjalku untukmu. Dokter menolaknya karena aku terlalu sering minum minuman keras.
Maaf juga..aku tak bisa kabulkan permintaanmu dulu..
Dulu kamu pernah meminta jadi saudaraku sebentarkan?
Aku tak bisa kabulkan…karena aku ingin menjadi saudaramu…selamanya…”
Satu tahun kemudian…
Di makam Hana…
Fany : “Hilga, ayo pulang… nanti bisa kemalaman sampai di Bandung.”
Hilga : “Sebentar lagi… Hana aku pulang dulu…lain kali aku ke sini lagi…
Terima kasih Hana..karena kamu sudah masuk dalam hidupku dan beri perubahan yang indah bagiku.. sekarang aku sudah berhenti minum dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik.
Terima kasih juga karena mau menjadi saudaraku…
Hana, maaf dan terima kasih..”
***Selesai***
Ada yang bergerak